Monday, August 6, 2012

Prospek Apartemen Primer dan Seken Cemerlang


JAKARTA, KOMPAS.com - Meski berbeda penggunanya, baik apartemen primer maupun sekunder memiliki pangsa pasar sendiri. Penyerapan kedua jenis apartemen ini tinggi, baik oleh investor maupun enduser. "Saat membeli mereka tak perlu membayar 60 % - 80 % seperti pembeli pertama dari pengembang. Jika menginginkan keuntungan, mereka dapat menjual kembali 7 - 10 tahun sesudahnya dengan harga jauh lebih tinggi."

Pengamat: Kepemilikan Properti Asing Rentan Picu Bahaya

Rencana pemerintah untuk membuka keran kepemilikan properti asing diprediksi akan cukup rentan terhadap kondisi perkembangan properti di Tanah Air. Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW), Ali Tranghanda, mengatakan adanya regulasi kepemilikan asing ini berpotensi membahayakan industri properti di Tanah Air jika terjadi krisis pada negara asal investor. "Jika ini dibuka untuk asing dan terjadi krisis pada negara si investor yang membeli properti, maka properti di Tanah Air bisa saja jatuh," katanya di sela acara Property Workshop di Bumi Serpong Damai, Senin (16/7). Ali menambahkan dibukanya pintu bagi kepemilikan asing di sektor properti ini akan menjadi salah jika tidak diberikan batasan-batasan, antara lain hanya berlaku untuk hunian vertikal berharga di atas Rp2 miliar dan hak guna bangunan dibatasi hanya selama 25 tahun namun dapat diperpanjang selama dua kali. Sementara itu, Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia (REI), Setyo Maharso, mengungkapkan saat ini semakin banyak penyelundupan properti di Indonesia seiring belum adanya regulasi kepemilikan asing atas properti Indonesia. "Saat ini tak dapat dipungkiri telah banyak pulau kecil di Indonesia yang dimiliki asing, di antaranya Papua, Batam bahkan di Bali banyak sekali vila-vila yang dimiliki asing," terangnya. Setyo menambahkan kondisi ini tentunya sangat mengkhawatirkan karena pemerintah tidak mendapat apa-apa dari adanya kepemilikan asing ini. "Ini disebabkan belum jelasnya regulasi kepemilikan asing ini, sehingga investor yang tertarik masuk ke Indonesia tidak bisa sehingga melakukan langkah hal demikian," tuturnya.(Ant/DNI) 

sumber : 
http://www.metrotvnews.com/read/news/2012/07/17/98634/Pengamat-Kepemilikan-Properti-Asing-Rentan-Picu-Bahaya/6

Friday, August 3, 2012

Pengembang Minta Kenaikan Uang Muka Ditinjau Ulang

PT Metropolitan Land (Metland) meminta Bank Indonesia (BI) meninjau ulang pemberlakuan ketentuan uang muka pembelian rumah minimal 30 persen. Hal tersebut dinilai memberatkan konsumen dan pengembang properti. "Persoalannya, pendapatan masyarakat masih relatif tetap. Tidak banyak yang sanggup menyediakan uang muka 30 persen," kata Direktur Utama Metland, Nandya Widya, di Bekasi, Kamis (2/8/2012). Ia menyebutkan, Metland merasakan dampak pemberlakuan ketentuan itu seperti dalam penjualan properti di Metland Tambun, Metland Cibitung, Metland Menteng, Metland Cileungsi, dan Metland Transyogi. Menurut dia, saat ini bank dengan prinsip syariah masih menjadi satu-satunya solusi mencicil bagi konsumen dalam menghadapi kebijakan uang muka 30 persen. Dengan banyaknya bank konvensional yang harus menaati kebijakan itu, alternatif bagi nasabah mencari pinjaman menjadi berkurang. "Yang berbahaya adalah spekulan. Mereka meminjam uang ke bank dengan modal terbatas untuk membangun rumah, namun konsumennya jarang," katanya. Menurut dia, berkurangnya konsumen tersebut karena mereka membutuhkan waktu lama untuk memperoleh uang muka. Kemudian, pengembang sulit menjual properti karena tingginya uang muka. "Saya berharap BI mau kembali meninjau kebijakan tersebut. Idealnya tetap 20 persen," katanya. Secara terpisah, konsumen Perumahan Green Residence, Rawalumbu, Kota Bekasi, Anggia Ananda (29) mengaku sangat keberatan dengan kebijakan itu. "Saya sudah mengumpulkan uang sejak 2009 lalu, sengaja untuk uang muka rumah. Tapi, saat saya berniat mengambil satu unit rumah, ternyata uang mukanya sudah naik," ujarnya. 
sumber : 
http://properti.kompas.com/read/2012/08/03/13084717/Pengembang.Minta.Kenaikan.Uang.Muka.Ditinjau.Ulang

Sunday, May 9, 2010

Hmm..Sejuknya Rumah dengan Ventilasi



KOMPAS.com - Sering merasa gerah di rumah? Hmm, mungkin karena sirkulasi udaranya ga bagus tuh. Coba buat ventilasi yang memadai. Dijamin deh, rumah jadi lebih sejuk.

Ventilasi yang cukup mutlak ada untuk menciptakan rumah yang nyaman. Ir Sukendro S. P, dari Nataneka Architects mengatakan, bahwa kualitas sirkulasi udara di dalam rumah, amat ditentukan oleh memadai tidaknya ventilasi yang ada. Kalau sirkulasi udaranya baik, maka udara di dalam rumah akan lebih sehat dan sejuk.

REI Expo Berakhir, Pengembang Pun Puas

JAKARTA, KOMPAS.com- Peserta pameran REI cukup puas dengan hasil yang berhasil terkumpul selama pameran.

Monica Dorothea Marketing Manager PT Lippo Cikarang Tbk yang memamerkan kluster perumahan, berpendapat respon pengunjung selama pameran cukup baik. "Selain saat weekend, saat jam istirahat kantor biasanya kunjungan ke stan juga meningkat," kata Monica.

Friday, April 16, 2010

Beli Properti di Luar Negeri, Ada Kiatnya Lho!

KOMPAS.com — Membeli properti di luar negeri tidak semudah membeli baju di mal yang langsung bisa diambil, dibayar, lalu dibawa pulang. Sebelum membeli properti di luar negeri, Anda harus memahami aturan-aturan yang berlaku di dua negara tersebut.

Nah, yang pertama harus dipahami adalah aturan kepemilikan properti oleh warga negara asing (WNA). Di Indonesia, WNA tidak akan mendapatkan hak milik bila membeli properti. Namun, tidak demikian di luar negeri. “Ada yang bisa menjadi hak milik, tapi ada juga yang hak guna,” kata Anton Sitorus, Manajer Riset Jones Lang La Salle.

Presiden SBY: Pembangunan Infrastruktur Melesat dalam Lima Tahun Ini

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia terus meningkatkan laju pembangunan infrastruktur. Bahkan, menurut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menilai pembangunan infrastruktur di Indonesia dalam lima tahun terakhir menunjukan perkembangan berarti.



Menurut Presiden beberapa contoh nyata antara lain dalam kurun waktu 2004 hingga 2009 jalan-jalan nasional sudah bertambah ribuan kilometer (km) dari 343.000 Km pada 2004 menjadi 391.000 Km pada tahun 2009.

Selain itu, di kawasan perbatasan telah dibangun jalan sepanjang 670,2 Km. Adapun pembangunan jalan di wilayah pulau-pulau terluar sepanjang 571,8 Km.

Presiden mengatakan pembangunan infrastruktur tersebut tidak hanya menghubungkan pabrik-pabrik dengan pasar, tapi juga untuk membawa dokter dan guru ke seluruh pelosok Indonesia. "Dokter dan guru itu bertugas memberikan pelayanan kesehatan dan pendidikan di seluruh pelosok tanah air. Ini contoh nyata infrastruktur berkait erat dengan peningkatan kesejahteraan rakyat," ujar Presiden saat membuka acara Asia Pasific Infrastructure Conference, Kamis (15/4).

Selain itu, menurut Presiden jaringan telepon yang pada tahun 2004 baru 7,8 juta sambungan kini telah meningkat menjadi 30 juta sambungan. Jumlah sambungan telepon seluler meningkat dari 12 juta menjadi 140 juta sambungan. "Jumlah pengguna internet juga meningkat pesat dari 8 juta jiwa pada tahun 2004 menjadi 30 juta jiwa tahun ini," kata Presiden.

Di bidang infrastruktur perumahan, kata Presiden, puluhan ribu rumah baru layak huni, rumah susun sederhana sewa (rusunawa), serta rumah susun sederhana milik (rusunami) telah dibangun melalui kerjasama yang baik dengan pihak swasta.

Kemudian, sarana air minum telah tersedia untuk melayani 11,07 juta jiwa. Lalu pengembangan sistem pengelolaan air limbah telah tersebar di 280 Kabupaten/Kota dan pengelolaan sampah telah tersedia di 360 Kabupaten/Kota.

Bukan itu saja, di bidang energi rasio elektrivitas telah tercapai 65,1 persen. "Listrik di setiap kecamatan perbatasan juga telah tersedia," tuturnya. (Hans Henricus/KONTAN)


sumber artikel :
http://properti.kompas.com/read/xml/2010/04/15/16424425/presiden.sby.pembangunan.infrastruktur.melesat.dalam.lima.tahun.ini